Tangkal Dampak Corona, Pengusaha Minta Pemerintah Bentuk Tugas Ekonomi

Tangkal Dampak Corona, Pengusaha Minta Pemerintah Bentuk Tugas Ekonomi

Dampak Corona Pada Pengusaha Muda

DampakWakil Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Eka Sastra, meminta untuk pemerintah segera membentuk gugus tugas ekonomi dalam penanganan dampak COVID-19. Sebab ia menilai pemerintah dan rgulator keuangan masih berjalan sendiri-sendiri.

“Dari kebijakan pemerintah masalahnya kita tidak punya gugus tugas ekonomi,” kata Eka dalam diskusi virtual Populi Center dan SmartFM Network bertajuk ‘Ekonomi, Bisnis, dan Fiskal Saat Ini’, Jakarta, Sabtu (2/5).

Baca juga : Sebanyak 62.848 Pekerja dari jabar yang di PHK dan Dirumahkan

Dia menuturkan pemerintah yang diwakili Kementerian Keuangan membuat kebijakan fiskal sendiri. Kementerian Sosial juga berjalan sendiri. OJK dan Bank Indonesia memainkan perannya masing-masing. Sehingga menghasilkan banyak instrumen tanpa ada yang memimpin.

Perhatian untuk Pemerintah

Dia mengapresiasi berbagai kebijakan yang telah diberikan pemerintah. Hanya saja hal itu masih berantakan dan berjalan masing-masing. Untuk itu dia mendukung pemerintah untuk membuat gugus tugas di sektor ekonomi. “Saya dukung pemerintah untuk membuat satu gugus tugas ekonomi,” kata Eka.

Eka membandingkan dengan penanganan yang dilakukan di sektor kesehatan. Semua dilakukan terpadu oleh gugus tugas dan terarah. Dipimpin oleh BNPB dan bekerja secara simultan. “Ini bisa dilihat dari kesehatan, semua fokus ke kesehatan. Kalau ekonomi (belum ada),” kata Eka.

Menurutnya, selain menyelamatkan nyawa manusia dari aspek kesehatan, penting juga melakukan penyelamatan dari sisi ekonomi. Tujuannya agar masyarakat juga bisa bertahan sampai wabah ini berakhir. Sebab, masalah yang akan dihadapi setelah penanganan di sektor kesehatan yakni pemulihan ekonomi.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Kadin Suryani Motik mendukung usulan tentang Gugus Tugas Penanganan Ekonomi yang bisa menjadi tim ad-hoc bertujuan memetakan kebijakan fiskal, kebijakan moneter, dan kebijakan sektoral untuk menangani persoalan ekonomi Indonesia. “Kita semua sepakat mendukung satu lembaga atau ad-hoc yang menangani ini (ekonomi) dengan baik,” kata Suryani.

Alasan, lanjut Suryani, untuk menjelaskan koordinasi antar pihak termasuk pemerintah dengan pengusaha agar dapat menyambungkan antara kebijakan, fiskal, moneter dan sektoral.

“Kalau sekarang bisa dilihat kita (pengusaha) berjalan sendiri. Semisal OJK, Presiden bilang relaksasi untuk kredit, tetapi pelaksanaannya di perbankan itu ketika ada anggota kita untuk meminta itu relaksasi cicilan, bunga dan lainnya. Tetapi jawabannya, perbankan tidak menerima policy dari Presiden untuk itu kalau kata mereka, minta aja sama Presiden,” terangnya.

Hampir Kesemua Sektor

Saat ini semua sektor bisnis terdampak ekibat penyebaran virus corona. Pengusaha sudah sebisa mungkin untuk menghindari dari perlakuan PHK kepada para keryawannya. tetapi kondisi perusahaan meryoritas pingsan, terutama pada pengusaha yang baru mulai berbisnis.

“Kalau (pengusaha di) Kadin megap-megap, kami sudah pingsan karena banyak yang UMKM, apalagi UMKM yang baru mulai,” tutur Eka.

Meski begitu ada beberapa sektor usaha yang masih bertahan. Terutama mereka yang berbisnis di bidang APD dan alat kesehatan. Pengusaha pakan dan telekomunikasi juga masih relatif berjalan. Pada lini bisnis ini, Hipmi mendorong agar pengusaha bisa meningkatkan skala bisnisnya.

Sumber : merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *