Penjelasan Mengenai Generasi Sandwich

Penjelasan Mengenai Generasi Sandwich

Penjelasan Mengenai Generasi Sandwich

Penjelasan Mengenai Generasi Sandwich – Generasi sandwich (sandwich generation) merupakan sebuah istilah bagi generasi yang terhimpit secara finansial untuk mencukupi kebutuhan pihak atas dan pihak bawah, dan bukan hanya dirinya saja (anggapan bahwa mereka harus menghidupi orang tuanya serta keturunannya kelak).

Istilah sandwich generation atau generasi sandwich pertama kali dikemukakan oleh pekerja sosial bernama Dorothy Miller pada 1981.

Kehidupan seseorang tidak lepas dari aspek penting bernama keluarga. Meski telah hidup mandiri terkadang seseorang masih harus bertanggung jawab atas kebutuhan orang tua maupun adiknya. Generasi ini biasanya dikenal sebagai ‘generasi sandwich’.

CMO dan Co-Founder Lifepal, Benny Fajarai, mengatakan generasi sandwich merupakan generasi yang bertanggung jawab mengurusi generasi di atas dan di bawahnya, sekaligus memenuhi kebutuhannya sendiri.

Generasi di atas generasi sandwich adalah orang tua dan mertua. Sedangkan generasi di bawah generasi sandwich adalah anak, adik, atau keponakan.

“Ini istilah yang baru populer belakangan ini juga. Fenomenanya bukan sesuatu yang langka. Ini kan generasi yang saat ini memiliki beban mengurus anak, generasi berikutnya dan juga generasi sebelumnya yaitu orang tua. Beban ini biasanya dikaitkan dengan beban finansial ya. Karena usia yang jauh ini, anak belum produktif tapi orang tua juga sudah tidak produktif, jadi kita harus membiayai orang tua dan anak,” ujarnya.

Istilah ini banyak dipakai untuk menggambarkan orang-orang di usia paruh baya (middle age) yang terjepit (sandwiched) dalam memenuhi kebutuhan anak-anak mereka dan juga orang tuanya dari mulai kebutuhan finansial sehari-hari hingga kesehatan secara bersamaan.

Dewasa ini, studi demografis menunjukkan bahwa generasi sandwich ini berjumlah sekitar 47 persen dari kaum dewasa di usia 40 hingga 50 tahun dengan orang tua berusia 65 tahun atau lebih yang juga menyokong anaknya.

Sesuatu yang wajar generasi sandwich bagi masyarakat di kawasan Asia

Keberadaan generasi sandwich memang bukan hal baru. Sejak puluhan tahun silam, setiap keluarga hampir rata-rata memiliki anak hingga 4 orang. Bak sebuah istilah, banyak anak banyak rezeki, para orang tua berharap anak-anak tercintanya bisa membantu mereka saat sudah produktif.

“Nah cuman kalau kita perhatikan dari generasi orang tua kita, KB digalakkan, pemerintah meng-encourage dua anak cukup lewat program KB, tapi kenyataannya beberapa orang tua kita saudara kita bisa empat, bisa lima orang,” ujarnya.

“Kalau lihat data di tahun 2020 per keluarga hanya memiliki anak 2,4 orang saja per wanita. Kalau jaman dulu bisa 4 orang. Dan dulunya ini tidak terlalu banyak dibahas karena beban (finansial) di-share dengan beberapa anak. Untungnya ada beberapa anak bisa mapan sehingga bisa berkontribusi lebih besar meringankan keluarga tersebut,” tambah dia.

Banyak generasi sandwich yang menunda menikah

Para generasi sandwich kerap berada dilema besar. Mereka harus menunda keinginan terbesarnya atau cita-citanya lantaran keuangan mereka terbebani untuk memnuhi kehidupan keluarganya. Menurut Benny, semakin banyak anak-anak muda yang pada akhirnya baru bisa mewujudkan keinginannya, seperti berkeluarga, di usia 20-an akhir maupun 30-an akhir.

“Artinya jarak anak dan orang tua itu, semakin nbesar gap-nya dan akan ada masa yang cukup berat bagi kita di usia 40-50 tahun, anak belum bekerja tapi orang tua sudah tidak lagi bekerja atau tidak produktif,” jelas Benny.