Pemerintah Gencarkan Promosi Buah Nusantara

Pemerintah Gencarkan Promosi Buah Nusantara

Pemerintah Gencarkan Promosi Buah Nusantara

Pemerintah Gencarkan Promosi Buah Nusantara, – Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Macmud mengatakan ekspor buah lokal diprediksi mengalami peningkatan yang cukup tajam. Peningkatan terjadi karena permintaan pasar terus melonjak. Utamanya selama pandemi Covid-19.

“Pada bulan Januari hingga Mei, permintaan ekspor buah meningkat sebesar 357.000 ton. Selanjutnya nlai tambah ekspor juga naik 73,4%. Ini merupakan peluang seklagius tantangan untuk meningkatkan produksi buah-buahan kita,” ujar Musdhalifah saat menghadiri webinar Gerakan Konsumsi Buah Nusantara Dalam Rangka menguatkam Bangga Buatan Indonesia, Senin.

Pemerintah meluncurkan Gelar Buah Nusantara (GBN) ke-5. Gerakan ini untuk menggali potensi bisnis komoditas buah asli nusantara. Menyosialisasikan buah asli nusantara kepada masyarakat konsumen untuk mengurangi konsumsi buah impor, sekaligus mendorong peningkatan agrobisnis buah asli nusantara.

“Pemerintah mendorong agar buah asli nusantara menjadi pemain utama pasar buah dalam negeri sekaligus guna peningkatan ekspor, agar dapat meningkatkan pendapatan petani,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers daring, Senin.

Seperti diketahui, PDB pertanian tumbuh sebesar 16,24% pada triwulan-II 2020 (q to q). Bahkan sektor pertanian secara yoy tetap berkontribusi positif hingga sebesar 2,19%. Pertumbuhan sektor pertanian disebabkan karena adanya dukungan kuat dari sub sektor pangan 34,77%, hortikultura 21,75% dan perkebunan 23,46%

Menurut Musdhalifah, berdasarkan catatan Kemenko volume ekspor terbesar secara berturut-turur adalah ekspor ke negara Vietnam, yakni sebesar 27%.Kemudian Malaysia 19%, Tingkok 17%, India 10%, Hongkong 6%, Thailand 6% dan UEA 3%. “Untuk itu perlu gerakan besar dalam membangun raksasa yang sedang tertidur. Salah satunya melalui gelar buah nusantara ini,” katanya.

Terdesak buah impor

Ditinjau dari aspek perdagangan, saat ini Neraca perdagangan buah-buahan Indonesia masih defisit Rp19,1 triliun. Besarnya defisit ini dipengaruhi terutama oleh impor 4 jenis buah-buahan yaitu anggur, apel, jeruk, dan pir dengan total nilai impor sebesar Rp16,7 triliun.

Sedangkan untuk jenis buah-buahan yang memberikan kontribusi ekspor yang besar adalah manggis, nanas, pisang, salak, dan mangga dengan nilai Rp986,1 miliar.

Kondisi ini diperparah pandemik COVID-19, impor buah pada triwulan I 2020 mengalami penurunan sebanyak 14,5 ribu ton. Turun 45 persen dibandingkan impor di bulan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2019, impor buah turun hingga 54 persen.

Konsumsi buah masyarakat masih rendah

Selain itu, berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS September 2019. Rata-rata konsumsi buah oleh masyarakat Indonesia hanya 41,95 kkal/kapita/hari, atau sekitar 67 gram/kapita/hari. Angka tersebut masih jauh di bawah rekomendasi konsumsi buah oleh WHO yaitu sebesar 150 gram/kapita/hari.

Realita ini berbanding terbalik dengan produksi buah lokal yang mengalami tren kenaikan produksi rata-rata dalam 4 tahun terakhir sebesar 10,12 persen.

“Kenaikan produksi buah lokal meningkatkan peluang ekspor sekaligus juga substitusi buah impor, mengingat permintaan akan buah lokal juga meningkat sejak pandemi COVID-19. Khususnya buah yang dapat meningkatkan imunitas tubuh dan memberikan manfaat kesehatan,” kata Airlangga.