Ini Alasan Kenapa Kurban Berbeda dengan Sesajen

Ini Alasan Kenapa Kurban Berbeda dengan Sesajen

Ini Alasan Kenapa Kurban Berbeda dengan Sesajen

Ini Alasan Kenapa Kurban Berbeda dengan Sesajen – Berkurban yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim saat diperintahkan oleh Allah SWT menyembelih anaknya Nabi Ismail, memiliki makna ketauhidan yang sangat tinggi. Dibutuhkan keikhlasan dan keimanan sangat besar.

Berkurban harus dilaksanakan semata-mata karena Allah, tidak perlu ada ritual-ritual di luar yang disyariatkan apalagi jika mengarah ke hal-hal mistis.

ber-kurban tidak sama dengan melakukan sesajen seperti yang dilakukan sejumlah tradisi di masyarakat misalnya melepas kepala kerbau ke laut.

Guru Besar UIN Riau Prof. Dr. M. Arrafie Abduh menyebutkan Islam adalah agama monoteisme etis, yang mengajarkan tauhid dan taqarrub, yaitu pendekatan kepada Allah SWT melalui amal-amal saleh.

Bagi Islam berkurban pada Hari Raya Idul Adha adalah tindakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan tidak bisa disamakan dengan sesajen (sacrificial). Yuk simak ulasan Deposit Poker Pulsa berikut ini

Pertama, ibadah kurban adalah untuk memperingati dan meneladani ketulusan sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, yaitu Nabi Ibrahim, Siti Hajar istrinya, dan Ismail putranya, yang menunjukkan kesetiaan dalam mewujudkan tujuan hidup bertakwa kepada Allah SWT.

Kedua, Alquran menegaskan, bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging atau darah hewan kurban itu, melainkan takwa dari orang-orang yang melakukannya. Jadi, sekali lagi ini bukan persembahan.

Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).

#Manfaat kurban untuk di akhirat nanti

Ketiga, takwa yang dicapai lewat ibadah kurban seharusnya melahirkan manusia-manusia yang memiliki kesadaran penuh tentang konsekuensi dari segara amal perbuatan di dunia, yang akan berbalas di akhirat kelak. Dengan demikian, ia akan menjadi sosok yang bertanggung jawab dengan segala perbuatannya, baik kepada Tuhan maupun kepada lingkungan sosialnya.

Keempat, kurban adalah ibadah untuk menanamkan pendidikan sosial, yaitu berbagi kebahagiaan kepada kaum fakir miskin.

Kelima, kerja keras dan pengorbanan adalah dua hal yang harus dilalui seorang manusia untuk meraih kesuksesan. Keduanya harus dibarengi dengan nilai-nilai ibadah kurban, yaitu sikap sabar, berlapang dada, tahan penderitaan untuk mencapai kemuliaan.

Keenam, secara sosiologis dan antropologis agama adalah simbol. Di balik simbol terdapat hikmah yang sangat dalam dan mendasar. Demikian pula ibadah kurban. Dalam melaksanakannya harus disertai dengan pemahaman dan perenungan yang mendalam bahwa kita tidak boleh tertipu oleh kesenangan dunia yang bersifat sesaat, lalu melupahan kehidupan abadi.

Ketujuh, seorang Mukmin pantang berputus asa pada saat ditimpa penderitaan sehingga kehilangan gairah hidup. Sebab sejatinya, tidak seorang pun manusia yang bisa benar-benar bebas dari penderitaan, sekurang-kurangnya situasi yang tidak menyenangkan.