Distributor Bakal Jual Pupuk Nonsubsidi

Distributor Bakal Jual Pupuk Nonsubsidi

Distributor Bakal Jual Pupuk Nonsubsidi

Distributor Bakal Jual Pupuk Nonsubsidi, – Optimistis panen melimpah sudah terasa di raut wajah Ali. Petani asal Kelurahan Karangrejo, Sumbersari, tersebut begitu semangat menyongsong musim tanam pertama di awal 2020 ini. Pagi-pagi betul, dia ke sawah bersama buruh tani lainnya. Satu petak sawah dengan air menggenang itu sudah siap untuk ditanami padi.

Sejumlah distributor pupuk subsidi di berbagai wilayah Indonesia mulai mengeluhkan kuota pupuk subsidi mulai menipis. Padahal, saat ini belum masuk masa tanam 2 yang akan jatuh pada September dan Oktober 2020.

Ketua Asosiasi Distributor Pupuk di Sulawesi Selatan Sariyadi mencontohkan, di wilayahnya saja, saat ini penyaluran pupuk subsidi baik itu jenis urea atau SP36 sudah mencapai 92 persen.

Ali pun tidak sadar dan tidak tahu soal pupuk. Baginya, persoalan pupuk aman-aman saja seperti sebelum-sebelumnya. Wajar, Ali adalah bagian dari ribuan petani yang belum tahu tentang kebijakan pemotongan alokasi pupuk bersubsidi di Jember hingga mencapai 50 persen.

Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro kepada Jawa Pos Radar Jember mengatakan, informasi tentang alokasi pupuk bersubsidi itu berkurang hingga mencapai 50 persen tidak semua petani yang paham. “Sekarang ini petani disibukkan dengan musim tanam. Coba nanti satu minggu ke depan, akan kacau. Kios penjual pupuk subsidi akan ramai dan rebutan pupuk dan saling tuduh akan bermunculan,” paparnya.

“Alokasi Urea tahun ini itu 233 ribu ton. Tahun lalu 275 ribu ton. Jadi turun. Sehingga dipastikan kondisinya seperti ini. Tidak langka, barangnya ada di gudang, tapi karena kuotanya habis, tidak bisa didistribusikan,” ungkap dia, Rabu.

Untuk wilayah Sulsel mendapatkan kuota pupuk Urea sebanyak 233 ribu ton. Jumlah ini menurun jika dibandingkan kuota tahun lalu yang sebanyak 275 ribu ton.

Dia meminta kepada petani dan pemerintah untuk tidak menyalahkan distributor apabila pupuk subsidi tidak ada di kios-kios mereka. Bukan karena ditimbun, melainkan memang pihaknya sudah tidak mendapat jatah distribusi.

Tekait persoalan ini, sejumlah distributor dari 15 kabupaten di Sulawesi Selatan sudah menyampaikan usulan tambahan kuota ke Pemerintah Daerah sebesar 40 ribu ton. Hanya saja keputusannya tetap berada di pemerintah pusat.

“Kalau tidak disetujui, terpaksa kita jual pupuk non subsidi. Masalahnya apa daya beli masyarakat saat ini mampu. Harganya saja Rp 300 ribu, kalau subsidi Rp 90 ribu,” tegas dia.

Secara jangka panjang, ditegaskannya, mulai lenyapnya pupuk subsidi di distributor akan menyebabkan angka produksi hasil pertanian di Indonesia akan menurun.

Jelang Musim Tanam, Distributor Keluhkan Kurangnya Kuota Pupuk Subdisi

Sebelumnya, sejumlah distributor pupuk mulai mengeluhkan kurangnya kuota alokasi pupuk bersubsidi yang telah ditetapkan Kementerian Pertanian. Seperti yang terjadi di Sulawesi Selatan.

Ketua Asosiasi Distributor Pupuk di Sulawesi Selatan Sariyadi menegaskan bahwa tidak terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi, khususnya untuk jenis urea, mengingat stok di gudang lini II dan III mencapai 63 ribu ton atau melebihi kebutuhan dasar.

“Sebetulnya bukan kelangkaan, yang terjadi adalah kuotanya habis. Kalau pupuknya, khusus urea dari PT Pupuk Kaltim itu, banyak sekali. Hanya saja, kuota yang tersedia itu sudah di atas 90 persen, sementara masih ada satu musim tanam berikutnya,” kata Sariyadi seperti dikutip dari Antara, Rabu (12/8/2020).

Sariyadi menjelaskan bahwa sebanyak 42 distributor di Sulsel telah menyalurkan pupuk urea bersubsidi sekitar 215 ribu ton atau 92 persen dari alokasi yang diberikan pemerintah untuk provinsi tersebut sebanyak 233 ribu ton.

Padahal, alokasi pupuk urea bersubsidi di Sulsel pada tahun lalu mencapai 275 ribu ton. Dengan begitu, ada kekurangan volume pupuk hingga 40 ribu ton lebih untuk memenuhi kebutuhan musim tanam pada Oktober mendatang.

Sariyadi menjelaskan bahwa jika tidak diantisipasi dengan penambahan kuota, maka tentu akan menyulitkan petani untuk berproduksi pada musim tanam kedua.

“Kalau nanti pada bulan 10 (Oktober), tidak ada kuota dan masyarakat petani daya belinya belum sampai membeli pupuk subsidi karena ada efek pandemi, maka akan terjadi ribut-ribut, karena sisanya hanya delapan persen untuk musim tanam kedua,” katanya.