BI Suntik Bank Umum Rp102 Triliun

BI Suntik Bank Rp102 Triliun

Suntik Bank Umum Rp102 Triliun

Suntikkan – Bank Indonesia (BI) akan menambahkan likuiditas ke perbankan nasianal sebesar Rp102 triliun mulai Mei 2020. Likuiditas ditambahkan agar bank ridak mengetat pada pertengahan tekanan ekonomi akibat dari pandemi COVD-19.

Guberbut BI mengatakan bahwa likuiditas dilakukukan dengan pelonggran Kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) berdenominasi riah untuk bank umum konvensional dan syariah. Kebijakan ini membuat batas pencadangan kas bank umum konvensional di BI akan menurun sebesar 200 basis poin (bps) untuk bank umum.

Sementara batas pencadangan kas bank umum syariah dan Unit Usaha Syariah (UUS) di BI turun 50 bps. “Kebijakan berlaku 1 Mei 2020. Penurunan GWM rupiah akan menambah likuiditas Rp102 triliun,” ungkap Perry, Selasa (14/4).

Baca juga : Industri Penerbangan Dihantam Corona

Perry mengatakan bank sentral juga tidak akan memberlakukan kewajiban tambahan giro untuk pemenuhan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) kepada bank umum konvensional dan syariah. Kebijakan ini akan berlaku mulai 1 Mei 2020 juga dan berdurasi satu tahun ke depan.

“Dari kebijakan ini, akan ada tambahan likuiditas Rp15,8 triliun,” ujarnya.

Kemudian, Bi juga menaikkan rasio penyangga likuiditas mkroprodensial (PLM) sebesar 200 bps untuk bank umum.

“Kenaikan PLM tersebut wajib dipenuhi melalui pembelian surat utang negara atau surat berharga syariah negara yang akan diterbitkan oleh pemerintah di pasar perdana,” katanya.

Bank Indonesia Berusaha

Tak ketinggalan, BI turut menyediakan term repo kepada bank dan korporasi dengan transaksi underlying surat utang negara dan surat berharga syariah dengan tenor sampai satu tahun.

Secara keleluruhan, BI melalui injeksi likuiditas akan mencapai Rp420 triliun pada tahunj ini. Sbelumnya, BI sudah memberikan injeksi lukuiditas sekitar Rp300 triliun.

Injeksi itu diberikan melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas asing sekitar Rp163 triliun.

Pelonggaran GWM rupiah tahap pertama Rp51 triliun, pelonggaran GWM rupiah tahap kedua Rp23 triliun, dan pelonggaran GWM valas US$3,2 miliar. Semua hal ini dilakukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

“Kami perkirakan rupiah akan stabil dan menguat ke Rp15 ribu per dolar AS pada akhir 2020,” tuturnya.

Sumber : cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *